Friday, February 22, 2008

PENGENALAN DAN PENGENDALIAN PENYAKIT BURIK BUAH JERUK

Masyarakat Jeruk Indonesia
Website: http://www.citrus-indonesia.com, E-Mail: mji@citrus-indonesia.com
Klik di sini untuk kembali

PENGENALAN DAN PENGENDALIAN PENYAKIT BURIK BUAH JERUK

Pendahuluan

Buah jeruk burik adalah buah yang sebagian atau seluruh kulitnya berubah warna menjadi kecoklatan, lebih kasar, kadang timbul bintil yang disebabkan organisme pengganggu tertentu. Pertumbuhan buah selanjutnya menjadi terhambat dan gejala yang ditimbulkan bersifat permanen hingga buah tua.

Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) hama penyebab burik adalah Thrips (Scirtotrips citri), Tungau Karat (Phyloccoptura oleivera Ashmed), dan Tungau Merah (Panonychus citri M). Sedangkan patogen penyebab burik adalah kudis (Spaceloma fawcetti Bitanic dan Jenk), Embun tepung (Oidium tingitanium Carter) dan Kanker Jeruk (Xanthomonas axonopodis pv. citri). Masing-masing OPT apabila menyerang tunggal atau bersama-sama akan menyebabkan gejala burik dengan ciri spesifik yang berbeda-beda.

I. THRIPS (Scirtotrips citri)

Proses terjadinya penyakit burik diawali saat berbunga, bunga yang mekar merupakan stadia yang paling rentan terhadap serangan hama Thrips (Scirtothrips citri). Telur Thrips berukuran sangat kecil diletakkan pada jaringan daun muda, tangkai, kuncup dan buah. Setelah 6 sampai 8 hari telur menetas berupa instar pertama berwarna putih transparan kemudian telur sebagian besar berwarna kuning dan coklat. Bekas serangan akan meninggalkan luka burik disekeliling tangkai buah, luka tersebut tidak bisa sembuh sampai buah tua, sehingga kulit buah berwarna coklat kasar dan tidak bisa hilang.

Pengendalian hama Thrips dapat dilakukan dengan menjaga agar lingkungan tajuk tidak terlalu rimbun; membersihkan kebun dari gulma dan sisa tanaman yang sudah mati; menggunakan insektisida dengan bahan aktif Cyhexatin, Dicofol, Alfametrin dan Alfa sipermetrin.

II. TUNGAU KARAT (Phyloccoptura oleivera Ashmed)

Tungau karat memangsa dengan memasukkan cheliceral stylet dalam sel tanaman dan menghisapcairan tanaman pada hampir semua vrietas jeruk. Imagoberwarna kuning sampai orange, panjang lebih kurang 0.2 mm. Telur diletakkan pada permukaandaun dan buah. Siklus hidup berlangsung sampai imago antara 7-10 hari pada musin panas atau 14 hari pada kondisis dingin. Imago betina hidup kurang dari 20 hari dan selama masa hidupnya mampu bertelur sebangak 20 butir.

Tungau karat memangsa terutama pada buah muda mulai yang ukurannya sebesar kacang dan kerusakannya biasanya tampak setelah buah berukuran sebesar kelereng. Lapisan epidermis kulit buah ikut rusak dan seiring dengan membesarnya buah akan tampak gejala bekas tusukan pada buah, walaupun hama tungaunya sudah tidak ada. Apabila serangannya parah, selain cabang, daun dan buah muda, buah yang masak bisa juga terserang. Serangan awal pada buah menimbulkan gejala warna buah keperakan (pada jenis lemon dan grapefruit) atau coklat keperakan (pada jeruk jenis lain). Pada fase selanjutnya buah yang terserang warnanya berubah menjadi coklat, sampai ungu kehitaman. Serangan P. Oleivora berpengaruh terhadap diameter, bobot dan kandungan nutrisi buah serta dapat mengakibatkan gugur buah lebih dini. Varietas jeruk berpengaruh terhadap tingkat serangan pada buah.

Di lapang populasi tungau dikendali secara alami oleh predator Amblyseius citri. Secara kimia hama tungau dapat dikendalikan dengan akarisida antara lain yang berbahan aktif propagit, dikofol, heksitiazoks dan amitraz. Apabila pengendalian terhadap serangan penyakit menggunakan fungisida yang berbahan aktif belerang (Sulfur) seperti maneb, mankozeb zineb atau bubur California maka pengendalian terhadap tungau kadang-kadang tidak diperlukan lagi karena sulfur diketahui dapat mengurangi populasi tungau.

III. TUNGAU MERAH (Panonychus citri Mcgregor)

Telur yang berwarna merah tua dan berbentuk bulat adalah fase yang mudah untuk membedakan dari tungau jenis lain. Telur sebagian besar diletakkan di permukaan bagian atas sepanjang tulang daun, tetapi sebagian lainnya diletakkan pada permukaan daun bagian bawah dan pada imago betian dari tungau ini berbentuk oval, berwarna merah tua dan mempunyai bulu-bulu yang panjang dan menarik perhatian. Tungau jantan ukuran tubuhnya lebih kecil, lebih runcing dan mempunyai kaki yang relatif panjang dan geraknya lebih aktif daripada yang betina.

Populasi tungau merah banyak ditemukan di permukaan daun bagian atas, dan sebagian kecil menyerang buah dan cabang. Dalam proses memangsa, tungau merah menghisap klorofil dari daun, sehingga warnanya berubah menjadi bintik-bintik kelabu dan keperakan.

Serangan lebih parah di musim kering di mana kelembaban dalam tanaman menurun. Pada kondisi demikian dari efek serangan tungau, iklim dan faktor fisiologis dapat mengakibatkan gugurnya buah dan ranting muda mati. Buah yang masih hijau lebih disenangi daripada yang tua, tetapi gejala serangan lebih jelas terlihat pada buah yang tua dan bersifat permanen. Pengendalian yang harus dilakukan sama dengan teknologi pengendalian Tungau Karat.

IV. KUDIS (Spaceloma Fawcetti Bitanic And Jenk)

Pada awalnya penyakit ini banyak menyerang terutama pada batang bawah JC (Japanese Citron), RL (Rough Lemon), Sour Orange, Rangpur Lime dan Carrizo Citrange tetapi akhir-akhir ini dilaporkan telah menyerang pada spesies komersial terutama jeruk Siam (C. suhuiensis Tan.).

Serangan pada daun muda menyebabkan titik penetrasi memanjang vertikal yang selanjutnya menyebabkan bercak kudis (coklat timbul) pada daun. Serangan pada daun, ranting dan buah menyebabkan Kudis/tonjolan kutil keras yang tidak bisa hilang sampai buah tua. Pada daun, serangan terutama pada bagian bawah, yang terkumpul seperti kerak. Serangan parah menyebabkan daun berkerut, pertumbuhan kerdil dan malformasi titik tumbuh.

Pengendalian dan pencegahan disarankan mulai buah pentil sampai berumur 2 bulan yang merupakan fase kritis buah; tidak membuat pembibitan disekitar tanaman produksi; menggunakan pestisida dengan bahan aktif Captafol, Benomyl, Thiophanate-metyl, dan Dithianon.

V. EMBUN TEPUNG (Oidium Tingitanium Carter)

Gejala khas ditunjukkan dengan adanya tepung putih yang merupakan masa spora. Tunas dan daun muda merupakan kondisi rentan adanya serangan embun tepung (Oidium tingitanium Carter). Jamur ini termasuk obligat parasit yang dapat tumbuh hanya pada jaringan tanaman yang masih hidup.

Jamur tumbuh diluar jaringan tanaman, tetapi memasukkan organ pemakan (Haustorium) kedalam sel epidermis. Serangan mengakibatkan rusaknya jaringan epidermis daun dan buah yang tidak dapat sembuh kembali. Meskipun jamur dapat dikendalikan, tetapi bekas luka pada jaringan epidermis tetap meninggalkan luka.

Pengendalian dilakukan dengan membuang tunas dan daun yang memiliki tanda terserang sebelum fase pertunasan untuk mengurangi sumber patogen, sedangkan fungisida yang disarankan menggunakan bahan aktif Siprokonazol, Copper Hidroxide, Propineb dan Benomyl.

VI. KANKER JERUK (Xanthomonas Axonopodis Pv. Citri)

Buah burik dapat pula disebabkan oleh adanya serangan bakteri Xanthomonas axonopodis pv. citri penyebab kanker pada jeruk. Bakteri akan dapat berkembang cepat pada kondisi suhu lingkungan 20 sampai 300 C, pada kondisi yang sesuai dengan bantuan sedikit air, patogen akan migrasi melakukan penetrasi melalui lubang alami atau luka oleh serangga mapun mekanis.

Serangan bakteri akan menyebabkan jaringan tanaman membuat pertahanan dengan timbulnya kanker yang tumbuh pada jaringan daun, ranting dan buah. Kanker yang tumbuh tidak dapat sembuh kembali dan mengakibatkan ranting kering, daun gugur, atau buah yang ditumbuhi banyak kanker.

Pengendalian yang disarankan adalah membuang bagian tanaman yang terserang agar tidak menjadi sumber patogen penular, membersihkan alat pertanian dengan alkohol 70% atau sodium hipoklorit 0.5%; menggunakan bakterisida atau menggunakan pestisida berbahan aktif Tembaga (Cooper).

Penyebab buah burik sudah diketahui masing-masing cara pengendaliannya. Penurunan persentase buah burik dapat dilakukan dengan beberapa hal yaitu pemahaman pengelola tanaman terhadap penyebab-penyebab tersebut, pelaksanaan pengendalian harus tepat waktu, tepat buah, tepat cara, dan tepat dosis.

Sumber : Lolit jeruk 2004

Dari Situs : http://www.citrus-indonesia.com/template.php3?f=artikel/PENYAKIT%20BURIK%20BUAH%20JERUK.htm

Wednesday, February 13, 2008

Representation of Acoustic Communication Signals by Insect Auditory Receptor Neurons

The Journal of Neuroscience, May 1, 2001, 21(9):3215-3227

Representation of Acoustic Communication Signals by Insect Auditory Receptor Neurons

Christian K. Machens1, 2, Martin B. Stemmler1, 2, Petra Prinz2, Rüdiger Krahe2, Bernhard Ronacher1, 2, and Andreas V. M. Herz1, 2

1 Innovationskolleg Theoretische Biologie, 2 Institut für Biologie, Humboldt-Universität zu Berlin, 10099 Berlin, Germany

Despite their simple auditory systems, some insect species recognize certain temporal aspects of acoustic stimuli with an acuity equal to that of vertebrates; however, the underlying neural mechanisms and coding schemes are only partially understood. In this study, we analyze the response characteristics of the peripheral auditory system of grasshoppers with special emphasis on the representation of species-specific communication signals. We use both natural calling songs and artificial random stimuli designed to focus on two low-order statistical properties of the songs: their typical time scales and the distribution of their modulation amplitudes.

Based on stimulus reconstruction techniques and quantified within an information-theoretic framework, our data show that artificial stimuli with typical time scales of >40 msec can be read from single spike trains with high accuracy. Faster stimulus variations can be reconstructed only for behaviorally relevant amplitude distributions. The highest rates of information transmission (180 bits/sec) and the highest coding efficiencies (40%) are obtained for stimuli that capture both the time scales and amplitude distributions of natural songs.

Use of multiple spike trains significantly improves the reconstruction of stimuli that vary on time scales <40> amplitude distributions as occur when several grasshopper songs overlap. Signal-to-noise ratios obtained from the reconstructions of natural songs do not exceed those obtained from artificial stimuli with the same low-order statistical properties. We conclude that auditory receptor neurons are optimized to extract both the time scales and the amplitude distribution of natural songs. They are not optimized, however, to extract higher-order statistical properties of the song-specific rhythmic patterns.

Key words: auditory receptor; neural coding; acoustic communication; natural stimuli; stimulus reconstruction; insect

From : http://www.jneurosci.org/cgi/content/abstract/21/9/3215

Banjir ......

Dari kemarin malam (01 Feb2008) Jakarta mendapat berkat dgn turunnya hujan, tapi segala sesuatu yg berlebihan emang kurang baik, sehingga beberapa daerah di Jakarta mengalami banjir. Termasuk kwasan kelapa gading, dimn di salah satu kost-an saya tinggal. Kostan ga kebanjiran, tp jalan dpn kost sempet kerendem sampai sebetisku. Dan saat ini, Bimbel-tempat kerjaku- diliburkan, jd seharian diem di kost-an, secraa klo keluar juga males. Dah baca buku, beres-beres  kost-an, dan akhirnya keluar juga untuk nge-net, waktu tadi keluar airnya dah lumayan suruh hingga semata kaki. Tadi malam Bapa rohaniku yg baru-Bang Sudung- menelepon, di cukup kuatir. Puji Tuhan klo Tuhan memperhatikan saya melalui Bang Sudung. Dan Tuhan memelihara saya sehingga kost-an saya ga kebanjiran.

Thank GOD for Everything YOU do in this life

Friday, February 1, 2008

Penghubung Sejarah Nusantara-Tiongkok

Penghubung Sejarah Nusantara-Tiongkok
Oleh admin
Rabu, 31 Oktober 2007 20:32:40



Hari itu, 25 tahun silam, H. Daruli berdiri di depan kediaman seorang kepala suku Dayak di Kalimantan Timur. Di hadapan mereka belasan guci dijejerkan. Tiba-tiba embusan angin mendorong pintu depan hingga terbuka. Sekejap mata Daruli menangkap benda kecokelatan di baliknya: sebuah guci kuno yang dirahasiakan kepala suku.

Daruli bangkit mendekat ke pintu. Nalurinya sebagai pemburu guci kuno mengatakan, nilai 1 guci itu lebih berharga ketimbang belasan guci yang disodorkan. Benar saja, sang kepala suku terlihat gugup melihat Daruli berminat. Pemimpin suku Dayak itu buru-buru menutup pintu tanda guci kuno itu tak dijual. 'Guci itu baru dilepas jika keturunan keluarga saya sudah habis. Ia warisan nenek moyang. Bila saya menjualnya maka kami bisa celaka,' ujar kepala suku pada Daruli.

Pantas bila sang kepala suku mempertahankan guci putih dengan strip-strip horizontal cokelat itu. Konon 300 tahun silam terjadi pertikaian antara 2 desa. Pertikaian dipicu pemenggalan kepala seorang laki-laki di masa damai. Hanya tubuh yang tersisa, sementara kepala hilang! Padahal, pemenggalan kepala cuma diizinkan saat ngayao (peperangan resmi, red). Penggalan kepala musuh biasa dibawa sebagai prasyarat ketika seorang pria Dayak ingin menikah.

Identitas sang pemenggal kepala terungkap waktu ia melangsungkan pesta pernikahan. Terjadilah perang antara desa si pemenggal dengan desa korban yang memakan ratusan jiwa. Nyawa yang hilang di kedua belah pihak membuat 2 kepala suku berduka. Untuk menghentikan perang, kepala suku asal pembunuh berkenan mengabulkan permintaan kepala desa korban: guci putih berumur 600 tahun asal Tiongkok yang ada di hadapan Daruli.

Daruli pun mengurungkan niat memiliki martavan-sebutan guci di Birma-bersejarah itu. Namun, tiap kali ia menyusuri sungai melewati rumah kepala suku itu untuk memburu guci pandangannya terpaku ke arah pintu. Ia baru berhasil mendapatkan guci idaman 6 tahun kemudian-ketika kepala suku dan 2 anaknya wafat. Guci berharga yang sekarang menjadi milik kolektor Dr Boedi Mranata itu diboyong ke Jakarta bersama 60-an guci lain dengan kapal kayu.

Perjalanan Daruli ke Borneo setiap 2 kali setahun bukan tanpa alasan. 'Dari seluruh penemuan guci di Indonesia, sebagian besar ditemukan di Kalimantan,' tutur Boedi Mranata, kolektor guci yang fanatik di Jakarta. Guci-guci itu berasal dari China. Diduga Kalimantan menjadi jalur pendaratan pertama para pelayar Tiongkok di tanahair. Secara geografis, pulau terbesar di Indonesia itu memang terdekat dengan daratan China.

Itu diamini oleh Dra Ekowati Sundari Mhum, kurator keramik di Museum Nasional, Jakarta. 'Dari seluruh suku di Nusantara, budaya masyarakat Dayak yang paling banyak memakai guci china,' tuturnya. Tercatat sejak zaman prasejarah suku asli Kalimantan itu menghormati tempayan gerabah. Mereka memanfaatkannya sebagai wadah, juga simbol status sosial, mas kawin, pembayar denda, kubur kedua, dan bekal kubur.

Menurut Ekowati, sejatinya suku primitif setiap bangsa mengenal kerajinan gerabah sejak mereka menemukan lempung dan api. Hanya saja periode waktunya berbeda-beda. Pada kasus suku Dayak, setelah mereka mengenal tempayan datanglah pedagang asal Tiongkok pada abad ke-7 dan 8. Salah satu barang perniagaan arak dengan wadah guci.

Kualitas dan bentuk guci yang bagus membuat suku Dayak terpikat. Alih-alih memesan arak, justru guci aneka bentuk yang mereka pesan. Posisi guci pun menjadi sakral dan menggeser peran tempayan gerabah. Toh itu tidak memupuskan penghormatan mereka pada tempayan gerabah. 'Keluarga mampu menggunakan guci, sedangkan masyarakat biasa tetap tempayan gerabah,' imbuh Eko.

Dra Dedah Rufaedah Sri Handari, kepala Bidang Bimbingan dan Publikasi Museum Nasional, Jakarta, menuturkan selain di Kalimantan guci juga ditemukan di Sumatera, Jawa, dan Sulawesi. Itu dibuktikan dengan penemuan-penemuan di pulau-pulau itu. Sebut saja di Bukit Siguntang, Palembang, Sumatera Selatan, dataran tinggi Dieng dan di dekat kompleks candi Prambanan dan Borobudur, Jawa Tengah. 'Meski ditemukan di sana, semua guci kuno itu asli China,' kata Dedah. Guci asli China yang ditemukan di Indonesia berumur 400- 1.200 tahun. Selain itu, guci-guci juga berasal dari Thailand, Vietnam, dan Burma.

Menurut Eko, meski guci berasal dari China, sudah selayaknya masyarakat Indonesia melestarikan guci. 'Guci kuno asal China sangat penting bagi sejarah bangsa. Itu bukti perniagaan suku-suku bangsa Indonesia dengan China sudah berlangsung sejak lampau,' imbuhnya. Artinya, kegiatan ekspor-impor antara Indonesia dan China saat ini adalah kelanjutan sejarah perniagaan nenek moyang. Para leluruh di Nusantara berniaga dengan bangsa Tiongkok jauh sebelum bangsa Eropa masuk ke Indonesia pada abad ke-15.

Alumnus Universita Indonesia itu menjelaskan di masa silam guci dimanfaatkan sebagai alat transportasi bangsa China. Dalam istilah arkeologi itu artinya benda yang dipakai untuk membawa barang untuk menempuh jarak jauh. 'Saat itu belum ada plastik dan keranjang seperti sekarang. Jadi, dipakai sebagai wadah adalah guci,' katanya. Dari sanalah populer istilah guci untuk menunjuk wadah transportasi.

Berdasarkan ukuran, Eko membagi bentuk wadah itu menjadi 3 sebutan: buli-buli tinggi 20 cm, guci (20-50 cm), dan tempayan (di atas 60 cm). Sedangkan berdasarkan bahan, Dr Putut Irawan Pudjiono, penggemar tembikar alumnus Institut Teknologi Bandung, membaginya menjadi tembikar, stoneware, dan porselen. Yang disebut pertama yaitu tanah liat yang dibakar dengan suhu rendah 350-1.000oC. Stoneware, campuran tanah liat dengan senyawa alumina silikat yang dibakar dengan suhu tinggi 1.150-1.300oC. Porselen berbahan senyawa alumina silikat murni dengan pembakaran suhu sangat tinggi 1.250-1.350oC.

'Kualitas paling bagus, berbahan senyawa alumina silikat murni,' kata Putut. Pada umumnya, hampir seluruh guci-asal China yang berfungsi sebagai wadah-berbahan stoneware. 'Bila berbahan tembikar, gampang pecah dan berkualitas rendah. Sedangkan bila berupa porselen, terlalu mahal dan bagus untuk ukuran wadah,' tutur Eko. Di tanahair, wadah transportasi negeri Tirai Bambu itu naik pangkat menjadi simbol status sosial. (Destika Cahyana/Peliput: Lani Marlina dan Lastioro Anmi Tambunan)

Pesona Sansevieria Mini

Pesona Sansevieria Mini
Dari Negeri Jiran hingga Negeri Sendiri
Oleh trubuson
Sabtu, 01 Desember 2007 16:12:13



Inilah legenda karya Jonathan Swift! Di tepi pantai, Gulliver, dokter muda asal Inggris, tergolek pingsan. Ia terdampar setelah kapal layarnya karam dihantam gelombang. Betapa terkejutnya Gulliver kala tersadar. Seluruh tubuh terikat. Ratusan prajurit mini-seukuran 6 inci setara 15 cm-mengelilingi dengan senjata terhunus. Kisah di negeri liliput itu begitu populer ke penjuru negeri. Namun, di Penang, Malaysia, bukan prajurit mini yang terkenal. Di sana, sansevieria mini seukuran 5-15 cm mulai populer.

Pantas sansevieria mini digandrungi hobiis Malaysia. 'Sosoknya imut. Itu menjadi daya tarik buat hobiis pemula,' kata Tham Peng Hooi, pemilik Xiang Fook Garden. Pada Pameran Bunga di Taman Botani Pulau Penang misalnya. Trubus melihat sebagian besar gadis dan ibu rumahtangga yang keluar dari stan Xiang Fook menenteng jinjingan berisi si liliput. Padahal, lidah jin-sebutan sansevieria di negeri jiran-itu dibandrol dengan harga tinggi.

Sebut saja sansevieria dari keluarga trifasciata. Ia dibandrol dengan harga rata-rata RM28 setara Rp70.000. Bandingkan dengan sansevieria serupa yang bersosok biasa, harganya hanya Rp15.000-Rp20.000. 'Bila tak dibuat mini, jarang dilirik. Dianggap tanaman biasa,' ujar Tham. Menurutnya, ide membuat sansevieria mini berasal dari ayahnya, Tham Hok Cheng. Tham senior 'mengerdilkan' sansevieria agar tanaman itu bisa diletakkan di atas meja: di samping komputer atau di dekat asbak.

Ketika itu 2 tahun silam, keluarga Tham mendapat informasi sansevieria bermanfaat bagi lingkungan. 'Kabarnya dia (sansevieria, red) antipolusi dan antiradiasi. Bukankah cocok diletakkan di meja perokok dan pegawai yang selalu di depan komputer?' tanya Tham senior. Lidah naga-sebutannya di China-pun dibuat mini dengan cara sederhana. Rimpang atau anakan sansevieria yang baru muncul ditanam di pot mini berdiameter 8-12 cm dengan media cocopeat murni. Pertumbuhan sansevieria pun terhambat karena media miskin hara.

Dosis rendah

Menurut Tham, agar kehidupan si mini tetap berjalan, setiap minggu disiram dan disemprot pupuk daun dosis rendah. Sebutan takaran rendah itu mengacu pada dosis kemasan. 'Sekitar 1/2-1/4 dari dosis yang tertera. Jenis pupuk apa pun bisa digunakan,' ujar Tham. Inovasi ayah dan anak itu tak berhenti sampai di situ. Untuk mendongkrak harga Tham menanam sansevieria mini berdekatan dengan boneka-mini di sebuah pot sedang, berdiameter 20 cm. Tampilan lidah mertua itu menjadi cantik, mirip taman mini. Harga pun melambung menjadi RM68 setara Rp170.000.

Kreasi dari negeri jiran itu mengingatkan pada sansevieria koleksi A Gembong Kartiko di Batu, Jawa Timur. Sejak 1,5 tahun silam ia 'membonsai' sansevieria mini untuk mengangkat pamor si lidah naga (baca: Lidah Jin Kecil Itu Indah, Trubus Mei 2007). Gembong juga menggunakan media minim hara meski berbeda. Ia memakai 100% sekam bakar atau pasir malang, sekam mentah, dan sekam bakar dengan komposisi 2:1:1. Pengrajin gerabah itu mencetak sansevieria mini untuk memuaskan hobiis sansevieria Jawa Timur yang umumnya berlatar belakang bonsai.

Menurut Gembong tren sansevieria mini di Malaysia membuktikan lidah naga kerdil memang cocok untuk hobiis, mulai dari pemula hingga kolektor. 'Itu sebuah bukti, sansevieria tanaman bandel. Ia bisa tumbuh di media apa pun, mulai cocopeat, mosh, sekam, hingga pasir murni,' tutur Gembong. Bahkan, menurut Agus Mulyadi, pemilik nurseri Griya Disp, Solo, sansevieria mini bagaikan sebuah lokomotif. Ia menjadi pintu masuk hobiis pemula untuk menyukai lidah mertua. Ia membuktikan dalam sebuah sosialisasi sansevieria 3 bulan silam, sebanyak 200 pot lidah mertua mini, ludes diserbu pemula.

Pasir laut

Nun di Yogyakarta, ada juga Yoe Kok Siong, yang membuat sansevieria mini dengan cara tak lazim. Pemilik nurseri Kaliurang Garden Center itu menumbuhkan sansevieria dari kelompok trifasciata di media pasir laut. Semuanya berawal dari kebetulan belaka. Ketika itu setahun silam, ia mengambil pasir laut untuk dihamparkan di taman. Tak disangka, sansevieria yang terkena pasir laut tumbuh bagus. Padahal, sebelumnya lidah mertua itu terabaikan lantaran membusuk di pot dengan media biasa-campuran tanah, kompos, dan sekam.

Ia pun memindahkan sepot lidah naga ke dalam pot kecil dengan media pasir laut murni. 'Pasir cukup dijemur sampai kering, baru dipakai sebagai media,' katanya. Benar saja, sang lidah jin tumbuh prima meski berukuran mini. Pengusaha jamu itu lalu meletakkannya di atas meja selama berbulan-bulan tanpa penyiraman. Menurut Yoe, sansevieria tetap mendapat pasokan air karena kelembapan Kaliurang tinggi. Diduga pasir laut mampu menyerap butiran air dari udara. Sementara sosok mini terjadi karena ukuran pot kecil, sehingga pergerakan akar dan daun terhambat. Media itu berhasil menumbuhkan sansevieria mini sebanyak 400 pot.

Menurut Lanny Lingga, praktisi tanaman hias di Bogor, sebetulnya sansevieria tak menyukai media dengan elektrokonduktivitas (tingkat penghantaran listrik yang dipengaruhi jumlah kation dan anion, red) tinggi dan suasana basa. Kemungkinan besar pasir pantai memiliki elektrokonduktivitas tinggi dan suasana basa karena tingginya kadar garam, 'Bila yang digunakan pasir pantai, kadar garam tinggi, karena terjadi proses pengendapan garam. Lidah mertua bisa keracunan garam dan busuk karena bakteri. Soalnya, bakteri menyukai suasana basa,' tutur Lanny.

Namun, bukan berarti pasir laut tak bisa digunakan. 'Saat ini banyak pasir laut yang dipakai sebagai media. Ia bukan pasir dari tepi pantai, tapi diambil dari tengah laut dengan cara membor,' kata Lanny. Yang disebut terakhir memang cocok digunakan sebagai media sansevieria maupun tanaman lain. Pasalnya, ia tak mengandung kadar garam yang tinggi dan pH netral.

Tertarik membuat sansevieria mini? 'Coba saja dengan media apa pun. Prinsipnya, minimkan hara dan tanam di pot kecil,' kata Gembong. Si kerdil pun tak hanya dinikmati di negeri liliput. Menurut Yoe, kecantikan si mungil bisa dinikmati di atas meja, bahkan di samping komputer, di ruang kerja. (Destika Cahyana/Peliput: Nesia Artdiyasa)



Berita Tanaman hias Lainnya
. Duel 2 Buaya di Kota Buaya
. Di Kerinci Seblat Ada Kepala Ular
. Iprik 'Telanjang' Gegerkan Bumi Sriwijaya
. Bandung Orchids Festival 2007
Pesona Dendrobium Tanatoraja

. Polesan Secantik
Mung Mee Srisuk

. Yang Kaya Mendadak
dari Anthurium

. Taruhan Nyawa
Datangkan Arabicum Yaman

. Semarang Adenium Contest
Geliat Adenium di Kota Lumpia

. Pesona Belang Negeri Siam
. Nepenthes maxima
Dari Celebes Mendunia

Pelestarian Alam

Pelestarian Alam

Seteleh berdiskusi sedikit dgn aktivis GreenPeace, saya jd semakin tertarik untuk mendukung program pelestarian alam. Bagi Anda yg memiliki minat yg sama dan berdomilisi di wilayah Indonesia or pihak2 yg perduli terhadap ligkungan hidup di indonesia. Anda dpt memperoleh info lebih lanjut dgn mengunjungi beberapa situs berikut :

World Wide Fund For Nature (WWF)-Indonesia
http://www.wwf.or.id/

Green Peace-Indonesia
www.greenpeace.or.id

Konus
Jl. Cikutra Baru II No. 9, Bandung 40124
Telp/fax (022) 720-0234
Website : http://www.konus.or.id
Email : konusinfo@yahoo.co.id

semoga berguna.

dukung terus pelestarian alam
cegah pemanasan global.

Thursday, December 6, 2007

FILOSOPI KEHIDUPAN SERANGGA

Serangga merupakan spesies paling beragam dalam kerajaan binatang. Dari keanakeragamannya itu, timbullah interaksi yg cukup komplek diantara spesies. Interaksi-inetraksi intra maupun inter spesies ini menciptakan suatu ekologi khas serangga dibandingan interaksi binatang pada umumnya.

Kehidupan manusia, dapat dianalogikan dengan kehidupan serangga. Dimana hampir setiap interaksi manusia dapat dianalogikan pada inetraksi-interaksi serangga. Meskipun tidak semua interaksi dalam manusia ada dalam kehidupan serangga.

Lebah madu memiliki coloni., yang bekejasama membangun suatu tatanan kehidupan sesuai dengan fungsi dan kedudukannya masing-masing lebah.

Ada lebah pekerja,yang setiap hari tidak lelah bekerja, ada lebah tentara yang bertugas menjaga coloni dari serangan atau gangguan luar, Adapula lebah jantan dan ratu yang berfungsi untuk mempertahankan kelangsungan spesies mereka. Kehidupan lebah madu bisa diibaratkan kehidupan suatu negara, dimana ada kepala Negara, ada tentara yang menjaga keamanan Negara, dan ada rakyatnya yang giat bekerja mendukung kelangsungan negara tersebut.

Interaksi simbiosis mutualisme terjadi diantara serangga baik intra-spesies maupun inter-spesies, dimana keadaan mereka saling menguntungkan. Contoh sismbiosis mutualisme intra-spesies adalah lebah madu seperti saya uraikan diatas, sedangkan contoh sismbiosis mutualisme inter-spesies adalah kutu daun dan semut, semut mendapat madu dari kutu daun, dan kutu daun mendapat perlindungan dari gangguan serangga lain karena ada semut-semu yang siap melindungi mereka.

Lain lagi dengan para predator yang memangsa serangga lain untuk mempertahankan hidupnya. Dari sudut pandang mangsa tentu keadaan predator merugikan, karena merka akan dimakan oleh predator itu, namun dari sudut pandang manusia keadaan predator serangan hamabjustru mengguntungkan mereka.

Ada juga prasitoid yang bertelur pada atau dalam tubuh serangga lain, dan bila telurnya menetas, larvanya akan memakan inang tempat dia menetas. Prarasitoid ini seperti manusia yng tidak tau membalas budi kebaikan orang lain.

Serangga hama adalah serangga yang paling merugikan bagi manusia, terutama untuk sektor pertanian, karena mereka merusak tanaman dan atau merusak produksi tanaman yang dibudidayakan oleh manusia. Namun mereka melakukan itu semua untuk kelangsungan hidup mereka. Jadi sebenernya manusialah yang menjadikan mereka sebagai hama.

Jadi seperti apakah Anda hari ini, Lebah madu, Predator, Parasitoid, atau Serangga Hama?